Liputan6.com, Jakarta Sejak Ruben Amorim tiba di Old Trafford pada November lalu, namanya terus digaungkan fans Manchester United di setiap pertandingan. Kekalahan demi kekalahan tidak mengikis dukungan itu, seolah ada keyakinan yang lebih besar dari sekadar hasil. Namun, suasana itu berubah drastis dalam sekejap.
Kekalahan dari Grimsby Town di ajang piala domestik menghadirkan salah satu malam terburuk dalam sejarah klub. Fans yang biasanya lantang mendukung tiba-tiba bungkam, dan bahkan beberapa melampiaskan kekecewaan kepada pemain. Momen itu menandai pergeseran suasana hati yang selama ini jarang terlihat.
Keterpurukan United kali ini terasa lebih pahit karena mereka tidak bermain di Eropa, menjadikan kompetisi domestik sebagai satu-satunya harapan. Justru di situ mereka terjungkal, membuka pertanyaan besar tentang masa depan Amorim dan arah tim.
Dukungan Fans Mulai Retak
Di Craven Cottage akhir pekan lalu, nama Amorim masih diteriakkan penuh semangat. Hanya butuh tiga hari bagi suasana itu berubah total ketika United dipermalukan Grimsby. Tribun tandang yang biasanya riuh berubah sunyi, tanda kepercayaan mulai terkikis.
Kemarahan fans juga mengarah pada pemain tertentu. Andre Onana menjadi sasaran ejekan setelah blunder fatal, sementara Diogo Dalot tak luput dari kritik keras. Salah satu saksi mata menyebut, “Bahkan fans garis keras pun kini ikut mencemooh. Tidak ada satu pun nyanyian untuk Amorim.”
Namun, tak semua menggambarkan situasi dengan nada marah. Beberapa fans justru menilai rasa apatis lebih dominan, sesuatu yang bisa jadi lebih mengkhawatirkan. Ketika dukungan bergeser ke ketidakpedulian, artinya jarak antara tim dan suporter semakin melebar.
Kritik pada Sistem Taktik Amorim
Hasil buruk memicu sorotan terhadap sistem permainan Amorim yang dianggap kaku. Banyak pihak menilai ia tidak mampu beradaptasi dengan cepat ketika rencana awal gagal di lapangan. Analogi Mike Tyson bahwa “semua orang punya rencana sampai kena pukulan pertama” terasa relevan bagi United saat ini.
Meski begitu, ada pemain yang masih menunjukkan keyakinan pada sang pelatih. Matthijs de Ligt menegaskan bahwa taktik bukan sekadar soal formasi, melainkan koneksi antar pemain di lapangan. Menurutnya, sepak bola modern terlalu dinamis untuk dibatasi oleh angka di papan.
Pandangan itu memang masuk akal, tetapi United terjebak dalam tuntutan yang tidak mengenal kata sabar. Media, pemilik, dan suporter sama-sama menginginkan perubahan instan, sebuah tekanan yang membuat proyek Amorim terasa rapuh sejak awal.
Deja Vu Musim 2014/2015
Keterpurukan United di awal musim ini mengingatkan banyak pihak pada musim 2014/15. Kala itu, mereka juga menjalani pramusim meyakinkan di Amerika Serikat, hanya untuk memulai kompetisi dengan kekalahan di laga pembuka dan tersingkir dari tim kasta bawah di ajang piala.
Kesamaan lain terlihat pada aktivitas transfer. Seperti musim tersebut, United saat ini kembali berencana melepas sejumlah pemain setelah belanja besar di musim panas. Situasi finansial juga menekan klub untuk bergerak cepat di bursa, meski belum tentu berujung pada solusi jangka panjang.
Menariknya, lawan berikutnya di liga juga sama: Burnley. Pada 2014, laga kontra Burnley berakhir imbang dan United akhirnya finis di posisi keempat. Kini, fans bertanya-tanya apakah Amorim mampu mengulang kebangkitan serupa atau justru terjebak dalam siklus kegagalan manajer berikutnya.
Lingkaran Krisis yang Berulang
Sejarah menunjukkan hampir semua manajer United pasca-Ferguson berakhir dengan kisah serupa. Dari David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, hingga Erik ten Hag, semuanya gagal mengubah nasib klub secara permanen. Amorim kini menghadapi tantangan yang sama.
Bahkan para mantan pelatih mengakui betapa beratnya kursi panas di Old Trafford. Moyes, misalnya, menyebut masa baktinya berakhir dengan “sedikit kekecewaan” meski masih merasa ada banyak faktor di luar kendalinya. Pengakuan itu menggambarkan besarnya beban yang membebani siapa pun yang duduk di kursi tersebut.
Di tengah tekanan itu, fans semakin lelah dengan siklus yang berulang. Harapan baru selalu disambut dengan semangat, hanya untuk berakhir dengan perasaan yang sama: kecewa. Amorim masih punya waktu, tetapi pertanyaannya, berapa lama kesabaran fans dan klub akan bertahan?